Text
Sorgum ketan coklat tua lokal : karakteristik dan potensi sebagai pangan lokal alternatif pengganti beras
Buku Sorgum Ketan Coklat Tua Lokal: Karakteristik dan Potensi Sebagai Pangan Lokal Alternatif Pengganti Beras Beras, sebagai bahan baku nasi mendominasi makanan pokok masyarakat Indonesia. Menurut Dyahrini & Gusni (2016) sebanyak 95% penduduk Indonesia mengonsumsi nasi beras sebagai makanan pokok. Konsumsi beras tahun 2021 sebesar 31,69 juta ton, naik dari tahun 2020 (31,33 juta ton) dan 2019 (31,31 juta ton). Sementara itu, luas panen tanaman padi menurun dari 10,68 juta ha tahun 2019 menjadi 10,66 juta ha pada tahun 2020, dan 10,41 juta ha pada tahun 2021 (BPS, 2022). Berdasarkan hal tersebut perlu dicari makanan pokok golongan serealia lokal yang kandungan gizi dan ketersediaannya cukup. Serealia yang dikembangkan pemanfaatannya oleh Kementerian Pertanian RI (2019) pada tahun 2020 adalah sorgum. Hal ini karena sorgum mengandung zat gizi lebih tinggi dari beras. Secara umum, sorgum ada 2 jenis berdasarkan komposisi patinya, yaitu sorgum biasa dan sorgum ketan. Sorgum biasa pada umumnya mengandung amilosa 20-30% dan amilopektin 70-80%, di mana sorgum ketan mengandung amilosa 0-15% dan amilopektin 85-100% (Pontieri et al., 2020). Selain itu, sorgum juga diklasifikasikan berdasarkan warna testanya, yaitu sorgum putih, kuning, merah, cokelat, dan hitam (Earp et al., 2004); (Xiong et al., 2019). Di Indonesia, sorgum banyak tumbuh di berbagai provinsi dengan varietas dan karakter yang beragam, yaitu Jawa Tengah (Purwodadi, Pati, Demak, Wonogiri), Daerah Istimewa Yogyakarta (Gunung Kidul, Kulon Progo), Jawa Timur (Lamongan, Bojonegoro, Tuban, Probolinggo), dan sebagian Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Sirappa, 2003). Buku Sorgum Ketan Coklat Tua Lokal
| T00689 | 584.924 RAH s | Kampus Nusukan (Rak FST) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain